Feeds:
Pos
Komentar

Salah satu permasalahan ekonomi di Indonesia adalah masalah pangan. Salah satu unsur dari pangan  adalah beras yang merupakan salah satu pilar/penyokong utama bagi ketahanan ekonomi suatu negara. Tentunya berkenaan dengan beras, kita akan berbicara tentang masalah sektor  pertanian, dan secara lebih khusus adalah masalah petani. Apabila kita telisik secara bersama masalah utama petani adalah salah satunya mengenai tata niaga pertanian. Akhir-akhir bulan lalu tentunya kita masih ingat dengan masalah melonjaknya harga cabai maupun bahan kebutuhan pokok. Seharusnya apabila menggunakan logika kenaikan harga pangan akan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan bagi petani. Namun, ternyata dalam data BPS Lampung melaporkan bahwa tingkat kesejahteraan petani justru menurun. Pada Januari 2011, nilai tukar petani yang menjadi salah satu indikator tingkat kesejahteraan petani mengalami penrunan 0,69% dari bulan Desember 2010. Bahkan pernah dilansir dalam Kompas, pendapatan rumah tangga petani hanya Rp 300.000,- per bulan. Secara otomatis kenaikan harga bahan pangan bukanlah jaminan bagi peningkatan kesejahteraan petani.

Pemerintah dalam hal ini, pernah berencana untuk memperkuat ketahanan berasnya pada tahun 2011, melalui Perum Bulog, pemerintah akan membeli semua/gabah petani apa pun kualitas dan berapa pun harganya. Tentunya kebijakan pemerintah tersebut sangat disambut baik oleh para “pahlawan pangan”. Akan tetapi, toh kenyataannya pemerintah hanyalah memberi “gula-gula” yang tidak dapat dinikmati petani. Dalam praktiknya pemerintah masih tidak bersedia menaikkan harga pembelian beras dan gabah. Pemerintah masih berpedoman pada harga Rp 2.640 per kg sesuai Inpres No.7/2009. Padahal harga di penggilingan berkisar Rp 3.300 per kg dan di gudang Bulog sendiri harga berkisar Rp 5.060. Perbandingan harga tersebut tentulah sangat merugikan petani, bahkan ya “wegah” bagi para petani untuk menjual beras miliknya kepada pemerintah. Akibatnya realisasi pengadaan beras oleh pemerintah menjadi “lelet”, hingga April lalu pengadaan beras oleh Bulog baru mencapai 750.000 ton, 25,03% dari target 3 juta ton (Kompas, 30/4). Dan apabila Berdasarkan rekomendasi dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia) stok ideal cadangan beras Indonesia adalah berkisar 1,25 juta ton hingga 1,5 juta ton. Dapat kita lihat bahwa masih minim sekali cadangan beras kita. Bahkan bukan tidak mungkin munculnya ancaman rawan pangan melanda negeri ini. Serta munculnya prediksi bahwa pemerintah merencanakan kebijakan “panen beras di pelabuhan” lagi alias impor beras guna memenuhi kebutuhan beras nasional, yang tentunya harga jual beras impor lebih murah daripada harga jual beras hasil petani dalam negeri.

Untuk itulah seharusnya pemerintah dalam membuat kebijakan perihal masalah pertanian dalam negeri, harus memperhatikan kepentingan dari berbagai pihak, secara khusus adalah mengutamakan kepentingan dari petani dalam negeri. Sudah berulang kali pemerintah tidak dapat membangun relasi yang baik dengan petani. Kebijakan seperti impor, deflasi harga kebutuhan pokok, serta perundang-undangan menyangkut agraria (pertanian) kebanyakan masih sangat merugikan petani. Perlulah pemerintah mengevaluasi kebijakan-kebijakannya serta lebih mengikutsertakan petani dan mengakomodasi kepentingan petani dalam perumusan kebijakan pemerintah. Petani merupakan penyokong ketahanan pangan negara. Di negara lain, seperti Jepang, pemerintah Jepang menempatkan petani sebagai profesi paling terhormat di negerinya. Hal tersebut terlihat dari majunya industri pertanian di sana. Bahkan negara Jepang merupakan salah satu negara yang mampu swasembada pangan termasuk beras. Indonesia haruslah malu pada Jepang. Indonesia perlu menggiatkan kembali program-program ketahanan pangan yang melibatkan masyarakat luas seperti pembangunan kantong-kantong pangan di daerah-daerah, manajemen harga pangan, serta membangun relasi antar daerah karena kita ketahui bersama setiap daerah memiliki potensi penyediaan pangan yang berbeda satu daerah dengan daerah lain, tentunya diperlukan pembangunan relasi antar daerah yang kokoh. Pemerintah berkewajiban menyediakan sarana-prasarana yang efektif dan berkelanjutan, yang mempermudah terjadinya kerjasama distribusi bahan pangan antar daerah. Apabila menengok sejarah kejayaan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, salah satu penopangnya adalah sektor pertanian, bukan tidak mungkin kejayaan kerajaan masa lalu dapat terulang di negara kita tercinta ini, dengan catatan pemerintah mampu mengelola sektor pertanian dengan baik dan selalu mengutamakan kepentingan kesejahteraan bersama.

KEPEMIMPINAN MASA KINI

MODEL-MODEL KEPEMIMPINAN MASA KINI (SEKARANG)

Sebelum berbicara tentang kepemimpinan transaksional dan transformasional, sebaiknya kita memahami dulu tentang arti kepemimpinan:

  1. Kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi. kepemimpinan hanya ada dalam proses relasi dengan orang lain (para pengikut) . Apabila tidak ada pengikut, maka tidak ada pemimpin. tersirat dalam definisi ini adalah premis bahwa pemimpin yang efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan berralasi dengan para pengikut mereka.
  2. Kepemimpinan merupakan suatu proses. agar bisa mempimpin, pemimpin harus melakukan sesuatu. seperti telah diobservasi oleh John Gardner (1986-1988) kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritas. Kendati posisi otoritas yang diformalkan mungkin sangat mendorong suatu proses kepemimpinan, namun sekedar menduduki posisi itu tidak menandai seseorang untuk menjadi pemimpin.
  3. kepemimpinan harus membujuk orang lain untuk mengambil tindakan. Pemimpin membujuk pengikutnya melalui berbagai cara, seperti menggunakan otoritas yang terelegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukum, restrukturisasi organisasi dan mengkomonikasikan visi.

Konsep kepemimpinan transformasional dan transaksional didasari oleh teori kebutuhan atau motivasi maslow (kebutuhan fisiologis, keamanan dan keselamatan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri). Menurut Bass dalam Robbins, (2008) kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah bisa dipenuhi dengan baik oleh pola kepemimpinan transaksional sedangkan pemuasan kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi hanya bisa dipenuhi oleh pemimpin yang menerapkan pola kepemimpinan transformasional.

Model Kepemimpinan Transaksional.

Kepemimpinan transaksional adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan serta ditetapkan dengan jelas peran dan tugas-tugasnya.
Menurut Masi and Robert (2000), kepemimpinan transaksional digambarkan sebagai mempertukarkan sesuatu yang berharga bagi yang lain antara pemimpin dan bawahannya (Contingen Riward), intervensi yang dilakukan oleh pemimpin dalam proses organisasional dimaksudkan untuk mengendalikan dan memperbaiki kesalahan yang melibatkan interaksi antara pemimpin dan bawahannya bersifat pro aktif.

Kepemimpinan transaksional aktif menekankan pemberian penghargaan kepada bawahan untuk mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu secara pro aktif seorang pemimpin memerlukan informasi untuk menentukan apa yang saat ini dibutuhkan bawahannya.

Berdasarkan dari uraian tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa prinsip utama dari kepemimpinan transaksional adalah mengaitkan kebutuhan individu pada apa yang diinginkan pemimpin untuk dicapai dengan apa penghargaan yang diinginkan oleh bawahannya memungkinkan adanya peningkatan motivasi bawahan. Steers (1996).

Bass dalam Yukl, (2007) mengemukakan bahwa hubungan pemimpin transaksional dengan karyawan tercermin dari tiga hal yakni:

  1. Pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelasakan apa yang akan mereka dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan;
  2. Pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan imbalan; dan
  3. Pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan tersebut sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah dilakukan karyawan.

Karakteristik kepemimpinan transaksional ditunjukkan dengan prilaku atasan sebagai berikut (Bass dalam Robbins – Judge, 2008) :

  1. Imbalan  Kontinjen  (Contingensi  Reward).  Pemimpin  melakukan kesepakatan  tentang  hal-hal  apa  saja  yang  dilakukan  oleh  bawahan dan  menjanjikan  imbalan  apa  yang  akan  diperoleh  bila  hal  tersebut dicapai.
  2. Manajemen  dengan  pengecualian / eksepsi Aktif (Active Manajemen  By  exception).  Pada manajemen eksepsi aktif pemimpin memantau deviasi dari standar yang telah ditetapkan  dan  melakukan  tindakan  perbaikan, serta melakukan tindakan perbaikan.
  3. Manajemen  dengan  pengecualian / eksepsi pasif (Pasive Manajemen  By  exception).  Pada manajemen eksepsi pasif pemimpin melakukan tindakan jika standar tidak tercapai.

Model Kepemimpinan Transformasional

Menurut Bass dalam Swandari (2003) mendefinisikan bahwa kepemimpinan transformasional sebagai pemimpin yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi bawahan dengan cara-cara tertentu.  Dengan penerapan kepemimpinan transformasional bawahan akan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan tanggap kepada pimpinannya.

Kepemimpinan transformasional adalah tipe pemimpin yang menginsprirasi para pengikutnya untuk mengenyampingkan kepentingan pribadi mereka dan memiliki kemampuan mempengaruhi yang luar biasa, Aspek utama dari kepemimpinan transformasional adalah penekanan pada pembangunan pengikut, oleh karena itu, ada tiga cara seorang pemimpin transformasional memotivasi karyawannya, yaitu dengan:

  1. Mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha;
  2. Mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok; dan
  3. Meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga diri dan aktualisasi diri.

Bass dalam Robbin dan Judge, (2008) mengemukakan adanya empat ciri karakteristik kepemimpinan transformasional, yaitu:

A. Kharisma (Charisma) / Pengaruh yang Ideal

Merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat, Kharisma atau pengaruh yang ideal  berkaitan dengan reaksi bawahan terhadap pemimpin. Pemimpin di identifikasikan dengan dijadikan sebagai penutan oleh bawahan, dipercaya, dihormati dan mempunyai misi dan visi yang jelas menurut persepsi bawahan dapat diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standard yang tinggi dan sasaran yang menantang bagi bawahan.

Kharisma dan pengaruh yang ideal dari pemimpin menunjukkan adanya pendirian, menekankan kebanggan dan kepercayaan, menempatkan isu-isu yang sulit, menunjukkan nilai yang paling penting dalam visi dan misi yang kuat, menekankan pentingnya tujuan, komitmen dan konsekuen etika dari keputusan serta memiliki sence of mission. Dengan demikian pemimpin akan diteladani, membangkitkan kebanggaan, loyalitas, hormat, antusiasme, dan kepercayaan bawahan.  Selain itu pemimpin akan membuat bawahan mempunyai kepercayaan diri. Sunarsih, (2001)

B. Rangsangan intelektual (intellectual stimulation)

Berarti mengenalkan cara pemecahan masalah secara cerdik dan cermat, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu berpikir tentang masalah dengan cara baru dan menghasilkan pemecahan yang kreatif. Rangsangan intelektual berarti menghargai kecerdasan mengembangkan rasionalitas dan pengambilan keputusan secara hati-hati.  Pemimpin yang mendorong bawahan untuk lebih kreatif, menghilangkan keengganan bawahan untuk mengeluarkan ide-idenya dan dalam menyelesaikan permasalahan yang ada menggunakan pendekatan-pendekatan baru yang lebih menggunakan intelegasi dan alasan-alasan yang rasional dari pada hanya didasarkan pada opini-opini atau perkiraan-perkiraan semata. Bass dalam Sunarsih, (2001).

C. Inspirasi (Inspiration)

Pemimpin yang inspirasional adalah seorang pemimpin yang bertindak dengan cara memotivasi dan menginspirasi bawahan yang berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi dari bawahannya, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada kerja keras, mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.

Pemimpin mempunyai visi yang menarik untuk masa depan, menetapkan standar yang tinggi bagi para bawahan, optimis dan antusiasme, memberikan dorongan dan arti terhadap apa yang perlu dilakukan. Sehingga pemimpin semacam ini akan memperbesar optimisme dan antusiasme bawahan serta motivasi dan menginspirasi bawahannya untuk melebihi harapan motivasional awal melalui dukungan emosional dan daya tarik emosional.

D. Perhatian Individual (Individualized consideration)

Perhatian secara individual merupakan cara yang digunakan oleh pemimpin untuk memperoleh kekuasaan dengan bertindak sebagai pembimbing, memberi perhatian secara individual dan dukungan secara pribadi kepada bawahannya.

Pemimpin mampu memperlakukan orang lain sebagai individu, mempertimbangkan kebutuhan individual dan aspirasi-aspirasi, mendengarkan, mendidik dan melatih bawahan. Sehingga pemimpin seperti ini memberikan perhatian personal terhadap bawahannya yang melihat bawahan sebagai individual dan menawarkan perhatian khusus untuk mengembangkan bawahan demi kinerja yang bagus.  Pimpinan memberikan perhatian pribadi kepada bawahannya, seperti memperlakukan mereka sebagai pribadi yang utuh dan menghargai sikap peduli mereka terhadap organisasi.

PENTINGNYA FLEKSIBILITAS KEPEMIMPINAN

Dalam organisasi, seperti juga dalam kehidupan lainnya, dibutuhkan fleksibilitas. Ini membantu untuk menanggapi terhadap orang-orang dan situasi-situasi secara tepat dan membuat penyesuaian bila terjadi penyimpangan dari antisipasi. Sebagai manajer/pimpinan/pemimpin, semua orang harus berhati-hati terhadap berbagai macam gaya kepemimpinan yang tersedia. Pengetahuan tentang model kepemimpinan masa kini telah dijelaskan di atas, yang akan membantu kita mengidentifikasikan perilaku kepemimpinan yang tepat. Tetapi semua orang harus menggunakan pengamatannya sendiri untuk mempelajari kepemimpinan dalam situasi-situasi nyata. Penting juga dilakukan percobaan dengan berbagai pendekatan yang berbeda dan mempelajarinya melalui analisis terhadap hasil-hasil. Sebagai manajer/pemimpin/pimpina, perilaku kepemimpinannya akan dipelajari pada jabatannya, saat berinteraksi dengan bawahan, dan tugas-tugas mereka.

MEMIMPIN DENGAN HATI

Pemimpin yang berhasil adalah yang tidak hanya didukung oleh keterampilan teknis dan kepintaran belaka. Yang tak kalah menentukan adalah emotional intelligence (EQ) yang tinggi. EQ adalah kesanggupan memahami diri sendiri. Seseorang yang memiliki self-awareness yang baik akan mampu mengendalikan dirinya sendiri (self-control) secara efektif. Self-control di sini bukanlah kemampuan seseorang menekan sedalam-dalamnya perasaan di lubuk hati, melainkan kesanggupan mengelola segenap emosinya secara aktif.

Pada seorang pemimpin, EQ menjadi dominan lantaran ia bekerja berada dalam satu kelompok, yang dituntut menunjukkan kerjasama team yang solid serta hasil kerja yang efektif. Hanya pemimpin yang terampil dan mampu mengendalikan emosinya secara positif atau bisa bekerja dengan hati, yang dapat diandalkan keberhasilannya. Lima komponen EQ yang dapat menjadi ukuran sukses seorang pemimpin adalah: Mawas diri, yang dimaksudkan disini adalah kesediaan mengakui kekuatan, kelemahan, emosi, kebutuhan dan dorongan diri sendiri. Umumnya ia tahu apa yang diinginkan, dan mengapa menginginkannya.

Sehingga, pemimpin ini akan lebih tegas dan fokus pada tujuan dan sasaran. Jika ada sesuatu yang dianggap kurang mendukung sasaran, dengan cepat ia memahami persoalan dan mengubah “kemarahan” menjadi hal yang konstruktif. Pengendalian diri ini merupakan komponen EQ yang membebaskan seseorang dari cengkeraman emosi. Bahkan, pemimpin yang dapat mengendalikan diri mampu mengubah konflik emosional menjadi solusi atau aktivitas yang bermanfaat. Pertimbangan yang patut dipercayai, pemimpin yang dapat mengendalikan diri cenderung rasional dan mampu menciptakan lingkungan saling percaya dan adil. Dengan demikian, ia dapat meredam pertentangan antar anggota di dalam suatu organisasi. Di bawah pemimpin yang bisa mengendalikan diri, anggota team-pun tidak akan gampang mengumbar emosi. Motivasi Komponen ini harus dimiliki pemimpin yang ber-EQ tinggi. Motivasi memacu orang mencapai tuntutan dirinya dan tuntutan orang lain. Motivasi bisa datang dari dalam diri maupun dari luar. Jika seorang pemimpin termotivasi dengan baik, ia akan terlihat senang dengan pekerjaannya, senang mencari tantangan kreatif, serta tentu saja senang meningkatkan kinerja dan mengontrol tingkat keberhasilannya. Akibat lain, pemimpin seperti ini tidak mudah frustasi dan depresi akibat kegagalan yang dialami. Empati Dari semua komponen EQ, empati menempati tempat yang paling mudah dikenali. Empati di sini bukan berarti menyetujui emosi team atau memuaskan mereka begitu saja, melainkan memperhatikan aspirasi karyawan bersama faktor-faktor lain dalam membuat keputusan.

Ada tiga alasan mengapa empati sangat penting dalam situasi sekarang, yaitu:
1. peningkatan kebutuhan terhadap kelompok kerja.

2. kecepatan arus globalisasi.

3. kebutuhan menahan anggota team yang berbakat.

Ini merupakan pencetusan dari dimensi-dimensi EQ lainnya (mawas diri, pengendalian diri, motivasi internal dan empati). Pemimpin cenderung efektif mengelola hubungan kerja bila mereka bisa memahami orang lain, mampu mengendalikan emosi, dan berempati terhadap orang lain. Mereka yang berketerampilan sosial cenderung memiliki pergaulan luas, pandai menemukan cara berhubungan dengan berbagai tipe orang, dan yakin bahwa tidak ada hal penting yang dilakukan sendirian. Orang-orang yang berketerampilan sosial bisa ahli mengelola team dengan baik, karena empati mereka berfungsi. Mereka juga ahli mempersuasi orang lain dan ini merupakan wujud kombinasi dari mawas diri, pengendalian diri dan empati. Dengan keterampilan itu, diyakini dapat mengembangkan kecakapan yang dipahami sebatas keterampilan teknis dan kemampuan pengetahuan seseorang menjadi kompetensi yang mempunyai cakupan lebih komprehensif, terdiri dari: motif, sifat, citra-diri, peran sosial, pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi inilah yang diharapkan menjadi karakter mendasar seorang pemimpin. Sebab, ia bisa mendorong lahirnya kinerja yang efektif dan superior dalam pekerjaan.

KEPEMIMPINAN YANG MELAYANI

Dalam sebuah buku yang menarik tentang kepemimpinan yang melayani (servant leadership) ditulis oleh Dr. Kenneth Blanchard dan kawan kawan, berjudul Leadership by The Book (LTB). Buku LTB mengisahkan tentang tiga orang karakter yang mewakili tiga aspek kepemimpinan yang melayani, yaitu seorang pendeta, seorang professor, dan seorang profesional yang sangat berhasil di dunia bisnis. Tiga aspek kepemimpinan tersebut adalah hati yang melayani (servant heart), kepala atau pikiran yang melayani (servant head), dan tangan yang melayani (servant hands).

Hati Yang Melayani (Karakter Kepemimpinan)

Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam dan kemudian bergerak ke luar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin sejati dan diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Paling tidak menurut Ken Blanchard dan kawan-kawan, ada sejumlah ciri-ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani, yaitu:

Tujuan paling utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya. Orientasinya adalah bukan untuk kepentingan diri pribadi maupun golongannya tetapi justru kepentingan publik yang dipimpinnya. Entah hal ini sebuah impian yang muluk atau memang kita tidak memiliki pemimpin seperti ini, yang jelas pemimpin yang mengutamakan kepentingan publik amat jarang kita temui di republik ini.

Seorang pemimpin sejati justru memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam kelompoknya. Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh John Maxwell berjudul Developing the Leaders Around You. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa tersebut akan berkembang dan menjadi kuat.

Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya.

Ciri keempat seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas (accountable). Istilah akuntabilitas adalah berarti penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik atau kepada setiap anggota organisasinya.

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat mengendalikan ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan publik atau mereka yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi begitu berat. Seorang pemimpin sejati selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri dan tidak mudah emosi.

Kepala Yang Melayani (Metoda Kepemimpinan)

Seorang pemimpin sejati tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tetapi juga harus memiliki serangkaian metoda kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas dari aspek yang pertama, yaitu karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pemimpin formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metoda kepemimpinan yang baik.

Tidak banyak pemimpin yang memiliki kemampuan metoda kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah formal. Oleh karena itu seringkali kami dalam berbagai kesempatan mendorong institusi formal agar memperhatikan ketrampilan seperti ini yang kami sebut dengan softskill atau personal skill. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can Leadership Be Taught. Jelas dalam artikel tersebut dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metoda kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada tiga hal penting dalam metoda kepemimpinan, yaitu:

Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas.Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju. Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk membawa orang-orang atau organisasi yang dipimpinnya menuju suatu tujuan (goal) yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar, serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi.

Ada dua aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tetapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tersebut ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang sangat responsive. Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan dan impian dari mereka yang dipimpinnya. Selain itu selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi organisasinya.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang pelatih atau pendamping bagi orang-orang yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemampuan untuk menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dan sebagainya), melakukan kegiatan sehari-hari (monitoring dan pengendalian), dan mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.

Tangan Yang Melayani (Perilaku Kepemimpinan)

Pemimpin sejati bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan dalam metoda kepemimpinan, tetapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard tersebut disebutkan ada empat perilaku seorang pemimpin, yaitu:

Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpinnya, tetapi sungguh-sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan Firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan dan diperbuatnya.

Pemimpin sejati fokus pada hal-hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tetapi untuk melayani sesamanya. Dan dia lebih mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.

Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek, baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dan sebagainya. Setiap hari senantiasi menselaraskan (recalibrating) dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesama. Melalui solitude (keheningan), prayer (doa) dan scripture (membaca firman Tuhan).

Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard yang menurut kami sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolok ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership).

Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman, menunjukkan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah orang-orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami orang lain dengan baik, terinspirasi oleh visi, mengenal dirinya sendiri dengan baik, memiliki spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.

Sumber-Sumber:

T. Hani Handoko.1984.  Manajemen. BPFE-Yogyakarta.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3794/3/fisip-erika2.pdf.txt

http://www.gudangmateri.com/2010/08/model-kepemimpinan-masa-lalu-dan-kini.html

http://erdiyansyah.wordpress.com/2010/08/14/kepemimpinan-transformasional-dan-kepemimpinan-transaksional-pengaruhnya-terhadap-kepuasan-kerja-pegawai/

http://iniadalahduniaku.multiply.com/journal/item/62/MEmiMPin_DENgan_HATi

http://www.hendryrisjawan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=84:kepemimpinan-yang-melayani&catid=52:others-article&Itemid=69

Islam di Amerika Sebelum Columbus
Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai ‘The New World’ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah ‘Dunia Baru’. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.
”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. “Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.
Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.
Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California.
Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi ‘Yasus bin Maria’ yang dalam bahasa Arab berarti “Yesus, anak Maria”. “Ini bukan frase Kristen,” cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat.
Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.
Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker.
Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.
Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor.
Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ”Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,” papar Youssef.
Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika – apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar.
Pengaruh Islam di Benua Amerika
Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.
Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.
Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?
Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.
Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba – masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).
Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.
Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.

Fakta Eksistensi Islam di Amerika
Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.
Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.
Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona – kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.
Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.
Dari: Republika Online 16 Juni 2008

Energi memainkan peran penting dalam keempat dimensi pembangunan berkelanjutan: aspek ekonomi, sosial, lingkungan dan institusional (kelembagaan). Untuk memenuhi kebutuhan energi pada abad ke-21 secara berkelanjutan (pasokan energi berkelanjutan) akan memerlukan penggunaan sumber daya energi dalam skala besar termasuk energi nuklir. Energi nuklir memiliki potensi menyediakan pasokan energi dengan biaya efektif, handal dan aman, baik langsung maupun tidak langsung. Perlu diingat bahwa dibutuhkan banyak waktu untuk membawa sebuah gagasan dari tahap konsep ke implementasi pada tingkatan yang mampu memberikan dampak signifikan secara global, regional serta lokal pasokan energi berkelanjutan. Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa energi nuklir adalah suatu jenis teknologi energi yang secara praktis menawarkan sumber energi tak terbatas serta dalam penggunaannya dapat mengurangi polusi lingkungan dan volume kegiatan pengelolaan limbah, termasuk juga emisi gas rumah kaca.

Namun, energi nuklir memiliki dualisme yakni, di satu sisi dapat menjadi energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan di sisi lain energi nuklir dapat ditujukan untuk keperluan militer dalam hal ini adalah untuk pembuatan senjata nuklir. Akhir-akhir ini kepemilikan senjata nuklir merupakan pilihan yang menarik bagi negara-negara di dunia daripada senjata konvensional. Hal ini karena senjata nuklir lebih murah dan lebih efektif penggunaannya daripada senjata konvensional. Dengan alasan ancaman keamanan, suatu negara menjatuhkan pilihannya pada senjata nuklir sebagai prioritas tertinggi dalam pemenuhan kebutuhan militer.

Dalam struktur organisasi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) terdapat sebuah badan yang mengurusi masalah tentang nuklir. Badan itu adalah IAEA (International Atomic Energy Agency) yang dibentuk pada tahun 1957 memiliki peran penting untuk mengawasi penggunaan energi nuklir dunia. Tujuan utama IAEA adalah untuk membantu perlucutan dan pemusnahan senjata nuklir dari muka bumi; serta untuk membantu negara-negara di dunia mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai. IAEA (International Atomic Energy Agency) memiliki tiga pilar yang mendasari pelaksanaan kegiatannya sebagaimana dimandatkan oleh Statuta IAEA.

Dalam pilar pertama, yakni non-proliferasi merefleksikan kekhawatiran utama dua negara adidaya pada saat itu demi mencegah negara manapun terutama negara-negara Proxy dari rival masing-masing untuk memiliki senjata nuklir.

Pilar kedua, yakni perlucutan senjata nuklir, dengan mempertimbangkan hegemoni global AS maka tidak heran jika pilar ini yang semula diharapkan sebagai sebuah konsesi, adalah satu bagian kesepakatan yang paling tererosi dan paling lamban diimplementasikan.

Pilar ketiga NPT (Non Proliferisasi Treaty)  adalah hak atas energi nuklir demi tujuan damai, tidak diragukan lagi merupakan insentif yang menarik, khususnya bagi negara-negara berkembang.

Namun, disamping NPT memang memuat sejumlah hak dan kewajiban yang mengikat seluruh anggota perjanjian ini.  Tetapi, negara-negara adidaya malah memanfaatkan NPT untuk mencapai tujuan illegalnya, yaitu memonopoli teknologi nuklir dan mencegah negara-negara lain untuk menguasai teknologi ini. Tujuan asli dari negara-negara adidaya dalam hal ini adalah membuat negara-negara lain tergantung kepada mereka dalam pemenuhan kebutuhan energi nuklir.

Kentalnya motif politik dalam segala pengambilan keputusan IAEA atas masalah nuklir merupakan bukti dari kelemahan kinerja IAEA karena IAEA tidak memiliki alat pemaksa untuk memaksa negara-negara besar memusnahkan semua persenjataan nuklir mereka. Yang terjadi justru sebaliknya, negara-negara besar ini mempengaruhi kinerja IAEA sehingga perannya dalam bidang pengawasan penggunaan nuklir tidak maksimal dan membuat IAEA memiliki kesan diskriminatif dan tidak seimbang dalam memandang masalah nuklir dunia. IAEA, sebagaimana umumnya lembaga-lembaga internasional, sebenarnya berada di bawah tekanan AS, contoh kasusnya: krisis nuklir Iran. Tujuan AS dalam menekan Iran sesungguhnya terkait dengan ambisi unilateralisme negara ini. Dalam hal ini, AS berusaha untuk menguasai produksi energi nuklir dan menciptakan kondisi di mana negara-negara lain bergantung sepenuhnya kepada AS.

Akhir-akhir ini banyak diberitakan di media internasional mengenai kontroversi pembahasan resolusi PBB mengenai pengurangan senjata nuklir. Salah satunya adalah: Harian Spanyol  El Pais mengomentari desakan DK PBB untuk memulai proses pengurangan senjata nuklir:
“Resolusi DK PBB memunculkan suatu harapan baru. Memang isinya hanya pernyataan niat baik, yang implementasinya sangat sulit. Tapi resolusi ini juga merupakan awal dari suatu era baru.”

Nah, menanggapi hal tersebut dni terdapat fakta-fakta yang akan membuka wawasan kita mengenai penggunaan nuklir dunia:
1.    Amerika Serikat merupakan negara dengan total pembangkit energi nuklir terbesar di dunia yakni  104 unit reaktor nuklir dengan daya 101 ribu megawatt. 104 unit reaktor nuklir Amerika menyumbang sekitar 5% dari total produksi energi listrik dunia yakni mencapai 806,6 miliar Kwh pada tahun 2007.
2.    Prancis merupakan negara dengan persentase penggunaan energi nuklir terbesar untuk kebutuhan listrik rakyatnya yakni mencapai 77%. Pada tahun 2007, 59 reaktor nuklir Prancis menghasilkan 420 miliar Kwh atau sekitar 2.6% energi listrik dunia.
3.    Jepang merupakan negara pengguna sekaligus pemilik reaktor nuklir terbesar di Asia meskipun struktur geologi negaranya rawan gempa. Jepang memiliki 53 unit reaktor nuklir jauh diatas Rusia yang hanya memiliki 31 reaktor nuklir.
4.    Hanya ada 3 negara yang menggantungkan kebutuhan listrik terbesarnya dari nuklir [mencapai 50% lebih) yakni Prancis (77%), Lithuania (64%), Slovakia (54%) dan Ukraina (48%).
5.    Penggunaan energi nuklir untuk pembangkit masih didominasi negara Eropa + Amerika Utara dan negara-negara yang maju yang relatif maju dalam teknologi nuklir.
6.    Pakistan dan India menjadi negara Asia yang relatif “miskin” (negara berkembang) secara ekonomi, namun mampu memiliki reaktor nuklir untuk pembangkit listrik.
7.    China menjadi negara dengan pertumbuhan reaktor nuklir terbesar didunia yakni mencapai 100% jumlah unit reaktor dengan peningkatan hingga 128% daya PLTN yakni dari 8500 MW menjadi 19500 MW.
8.    Iran menjadi negara ke-31 pemilik pembangkit listrik tenaga nuklir di dunia. PLTN milik Iran dikecam oleh Amerika dan negara-negara sekutunya.
9.    China, India, Argentina, Slovakia, Finlandia, dan Pakistan akan meningkatkan kapasitas PLTN-nya dalam 1 dekade ke depan minimal 50%.
10.    Munculnya Korea Utara, Libya, Israel bahkan negara-negara berkembang lain yang memulai untuk menggunakan dan mengembangkan energi nuklir bagi kebutuhan negaranya. Yang semakin menambah jumlah instalasi nuklir dunia, dan semakin memanaskan persaingan perlombaan nuklir dunia.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa betapa beratnya tugas IAEA dalam menjalankan resolusi PBB, apabila nanti telah disepakati oleh semua pihak. Apakah era baru yang didambakan kita semua sejalan dengan semua negara yang bersedia dengan “legowo” melucuti nuklirnya atau malah justru sebaliknya, semakin banyak nantinya jumlah instalasi nuklir dunia dengan alasan untuk tujuan “damai”.

Arah dunia semakin berbeda dengan tujuan “era baru” yang bebas nuklir. Hal ini dibuktikan dengan negara-negara pemilik nuklir yang tidak bersedia menteken setiap kesepakatan berhubungan dengan pengurangan penyebaran nuklir dunia. Kemudian adanya paham bahwa setiap negara berhak bebas memiliki dan mengembangkann energi nuklir, sehingga membuat semakin banyak negara yang termotivasi untuk mengembangkan nuklirnya. Hal ini sesuai pernyataan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang mengatakan, “Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya, mengapa kalian sebagai negara adikuasa memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik bagi kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?” Demikian pernyataan itu terlontar ketika semakin kerasnya dunia menekan pemerintah Iran untuk menghentikan pengayaan uraniumnya.

Demikianlah sekelumit kisah mengenai perkembangan isu nuklir yang semakin memanaskan adrenalin masyarakat internasional. Yang nantinya akan terus menjadi perbincangan dunia hingga masa depan kelak. Kontroversi nuklir dunia sesungguhnya kalau diibaratkan sebagai “bom waktu” bagi dunia ini yang sewaktu-waktu bisa terjadi ledakan besar yang memicu terjadinya Perang Dunia III. Untuk itulah nasib dunia ada di  tangan para pemimpin dunia pada khususnya dan masyarakat internasional pada umumnya, guna memilih ke arah manakah dunia ini akan dibawa ke arah yang baikkah? Atau ke arah kehancurankah? Kembali lagi ke dalam hati nurani kita sebagai manusia dalam memilih mana yang benar dan mana yang salah. Mari “LET ’S SAVE OUR EARTH FROM WORLD WAR THAT CAN DESTROY OUR FUTURE”.

Belum lama ini Malaysia kembali berulah. Kali ini tari pendet dari Bali menjadi targetnya. Sebelumnya, mereka mendaku reog, angklung, batik, rendang, wayang, Ambalat, dan lagu ”Rasa Sayange” sebagai miliknya. Buku- buku kuno sastra Melayu juga menjadi incaran mereka. Inilah serangan frontal non militer yang ditujukan kepada kebudayaan dan identitas bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia yang sering dianggap sebagai saudara tua benar-benar terlihat letih sehingga sering dipermainkan oleh sebagian saudara mudanya yang tidak mengenal etika pergaulan antarbangsa dengan mengklaim kepunyaan orang lain. Entah apa yang terjadi dengan Malaysia.

Tampaknya banyak orang Malaysia memang bermasalah dalam hal identitas bangsa. Kemajuan ekonomi yang dicapai tidak dibarengi pembentukan identitas budaya. Dari segi kultural, mereka adalah keturunan para nenek moyangnya yang berasal dari Sumatera dan sebagian dari Sulawesi (Bugis). Tidak ada kekhasan yang asli Malaysia yang dapat dibanggakan di tengah keberhasilannya dalam bidang ekonomi.

Bangsa hanya akan menjadi besar jika mempunyai identitas kuat. Identitas ini juga sering berguna ketika bangsa itu dihadang kesulitan. Ini yang menjelaskan mengapa krisis politik dan ekonomi yang hebat tidak mampu meruntuhkan Indonesia sebagai negara dan bangsa.

Negara dan bangsa tidak dapat hanya mengandalkan aspek fisik. Negara mempunyai dua properti identitas, yaitu fisik dan nonfisik. Properti fisik, misalnya, adalah wilayah, penduduk, kekayaan alam, dan sebagainya. Properti nonfisik adalah nilai, kebudayaan, norma-norma, dan kohesi sosial. Properti nonfisik bangsa Indonesia semua berakar dari butir-butir yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar negara kita. Apabila dibandingkan dengan Malaysia, Indonesia jauh lebih baik dalam pengelolaan properti yang ada di dalam kedaulatan NKRI.

Jika ditanyakan apa identitas kebangsaan Malaysia? Mungkin jawabnya adalah Melayu-Islam. Namun, ini bukan monopoli mereka. Inilah krisis identitas yang mereka hadapi. Suatu krisis yang menjadikan mereka agresif karena kepercayaan diri yang besar, karena kemajuan ekonomi yang mereka raih.

Malaysia dalam melakukan klaim-klaim atas kebudayaan negara lain tidak terlepas dalam tujuan Malaysia untuk menjadi bangsa yang benar- benar Asia, the trully Asia, walaupun tidak berakar secara lokal/asli. Sikap Malaysia sesungguhnya mencerminkan salah satu sikap korupsi dengan mengambil harta budaya negara lain, tanpa izin tanpa ada konfirmasi dengan negara yang dirugikan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan perilaku korupsi yang intinya adalah mengambil harta yang bukan miliknya secara pribadi.

Untuk itulah apa pun yang terjadi, kita dan pemerintah harus melakukan tindakan tegas terhadap Malaysia. Sehingga negara jiran tersebut tidak lagi berani mengusik kehidupan berbangsa dan bernegara NKRI. Kita wajib menjaga warisan budaya negeri ini yang memiliki keanekaragaman macam dan wujudnya, dari tangan-tangan “koruptor” seperti Malaysia.

Perubahan sosial dapat diartikan perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda yang ada dalam kehidupan sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang tidak serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan yang dimaksud perubahan budaya adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.
Westernisasi adalah sebuah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, sosial, budaya, dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan sehari-hari bangsa-bangsa dengan gaya Barat. Dengan banyak cara, westernisasi menggusur kepribadian suatu bangsa yang merdeka dan memiliki karakteristik yang unik. Kemudian bangsa tersebut dijadikan boneka yang meniru secara total peradaban Barat.
Westernisasi di Indonesia menurut kami merupakan suatu masalah yang perlu dicermati bersama karena menyebabkan perubahan terhadap masyarakat multikultural Indonesia yang semakin lupa akan nilai luhur, budaya, norma, adat istiadat yang sejujurnya merupakan warisan kepribadian bangsa Indonesia asli berasal dari nenek moyang kita terdahulu. Dan apabila warisan kepribadian bangsa tersebut dilestarikan maka sesungguhnya akan memberikan suatu nilai lebih bagi kehidupan bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara lain, karena setiap bangsa memiliki kepribadian bangsa yang berbeda-beda. Sekarang ini begitu banyak generasi bangsa Indonesia yang bersikap “kebarat-baratan”, kini jati diri bangsa hanya tampak pada sebagian kecil kelompok masyarakat. Generasi kita terlalu bangga dengan kebiasaan dan adat orang-orang Barat, sementara dengan adat sendiri malu apabila menunjukkan adat tersebut di depan umum. Hal ini diperparah dengan minimnya perhatian pemerintah serta tersebar luasnya budaya Barat melalui media-media baik cetak maupun elektronik yang menonjolkan budaya-budaya Barat.
Sebagai contoh warga Indonesia sendiri banyak yang menyalah gunakan produk industri, misalnya thank top yang diluar negeri digunakan pada musim panas, akan tetapi di Indonesia malah digunakan untuk bergaya di depan umum. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia latah terhadap perubahan. Mereka menganggap pakaian produksi negara Barat tersebut sesuai dengan budaya Timur yang dianut oleh bangsa kita Indonesia. Selain itu masalah norma berperilaku dalam kehidupan masyarakat, kita tahu bahwa orang Jawa terkenal dengan “unggah-ungguhnya” apabila bertemu dengan orang lain, namun di era modernisasi ini orang-orang semakin jarang melakukannya banyak diantara mereka yang justru cuek bebek dan selalu menunjukkan bahwa seolah-olah orang itu hidup sendirian (individualis), padahal kita tahu sikap dan gaya individualis adalah gaya orang-orang Barat, dan tidak sesuai dengan budaya Timur negara kita.
Untuk itulah diperlukan kesadaran bersama baik pemerintah maupun masyarakat, serta dilakukan penanaman, penghayatan, dan pengamalan lebih mengenai pengetahuan akan kepribadian ataupun jati diri bangsa kita sehingga nantinya budaya asli kita tidak akan hilang tergilas oleh perkembangan roda zaman yang diboncengi masuknya berbagai budaya asing ke dalam negara kita. Masyarakat harus bisa mengambil hal-hal yang baik dari suatu budaya asing serta membuang hal-hal yang buruk dari budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian maupun jati diri bangsa kita.

Latar Belakang Konflik Taliban

Sebelum perang dingin usai, Pakistan satu-satunya negara di sub kawasan Asia Tengah di pesisir Laut Kaspia yang mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan, yang ditinggalkan oleh rezim pendudukan Uni Soviet. Bubarnya Uni Soviet dan digantikan oleh Rusia, Afghanistan memang terpecah belah di antara penguasa yang komunistis atheis dengan Taliban yang Islami. Osama bin Laden jutawan Arab Saudi yang hengkang dan bersembunyi di Afghanistan memang mendukung Taliban yang sempat dipuji oleh Washington (Presiden Richard Nixon) karena memerangi Uni Soviet yang komunis-atheis. Akan tetapi akhirnya perang saudara di Afghanistan antara faksi Taliban dengan faksi pro demokrat-liberalisasi yang didukung Barat dengan pasukan NATO nya, dimenangkan oleh Hamid Karzai boneka-epigon dari Presiden G.W. Bush. Sementara bin Laden justru jadi uberan dari Washington karena memimpin kelompok teroris Al Qaeda yang dituduh pula sebagai dalang serangan 11 September 2001 yang meledakkan gedung kembar Pusat Perdagangan Dunia (WTC) di New York dan Departemen Pertahanan AS Pentagon di Washington.

Sementara itu Pakistan yang berseteru dengan India dalam memperebutkan Kasmir, beradu konflik berdasarkan visi Barat , semua entitas Muslim adalah teroris global yang harus dipunahkan. Akan tetapi India yang selama ini memiliki hubungan dan kontak militer dengan AS dan Israel serta memperkaya uranium untuk hulu ledak nuklir saat itu tidak didukung oleh Washington. AS memang berhasil membuat penguasa Pakistan tidak mendukung Taliban lagi bahkan turut membantu milternya untuk mencari bin Laden di Afghanistan.

Seperti dikutip oleh AFP dari Camp David, (7 Agustus 2007) Presiden Afghanistan Hamid Karzai dan Presiden Bush sepakat bahwa Pakistan harus membantu untuk menumpas kekerasan mematikan di dalam wilayah Afghanistan, namun mereka berselisih tajam mengenai pengaruh regional Iran. Satu hari setelah Karzai menyebut republik Islam itu sebagai ‘penolong’ untuk menumpas kelompok militan, Bush mengecam pemerintah di Teheran sebagai ‘kekuatan bukan untuk kebaikan’ dan berjanji melakukan upaya untuk mengucilkan Iran terkait dengan program nuklirnya. “Kami akan terus bekerja untuk mengucilkan mereka karena mereka bukan kekuatan untuk kebaikan sejauh yang kami ketahui, mereka adalah pengaruh yang membuat tidak stabil di mana pun mereka berada,” kata Bush pada jumpa pers dengan Karzai, yang tidak berkomentar atas pernyataan pemimpin AS itu.

Sejak invasi AS ke Afghanistan dari tahun 2001 hingga sekarang, pergerakan Taliban tidak hanya di Afghanistan tetapi juga di wilayah perbatasan Pakistan. Bahkan tercatat terjadi peningkatan pesat intensitas serangan Taliban baik di Afghanistan maupun Pakistan. Dan berhasil menewaskan banyak korban sipil maupun militer. Selain itu juga konflik Taliban disamping menibulkan korban jiwa, menyebabkan negara-negara regionalnya ikut terlibat konflik ini, bahkan menimbulkan rasa saling curiga antar negara-negara yang dalam notabene masih satu regional.     

Akhir-akhir ini permasalahan Taliban memanas lagi, dengan adanya penggempuran yang dilakukan oleh militer Pakistan pada kedudukan Taliban di Peshawar, Pakistan daerah Lembah Swat yang disinyalir merupakan basis kuat Taliban di Pakistan. Dan hasilnya pemerintah Pakistan mengklaim telah berhasil merebut kota-kota yang dikuasai Taliban, dan berhasil ditekan ke luar kota. Namun, seperti yang diberitakan media bahwa Taliban masih belum menyerah dan terus melakukan perlawanan walaupun terkonsentrasi di luar kota-kota tersebut. Kegagalan operasi-operasi militer baik dilakukan oleh militer Afghanistan-NATO maupun militer Pakistan yang ditujukan untuk memberantas Taliban maupun Al-Qaeda membuktikan bahwa diperlukannya suatu penyelesaian  sehingga konflik tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan efektif. Jadi bagaimanakah cara penyelesaian yang efektif untuk konflik Taliban?

Solusi Penyelesaian Konflik Taliban

Seperti yang kita ketahui bersama konflik Taliban sesungguhnya telah menjadi konflik internasional karena telah melibatkan berbagai negara sepetti AS dan sekutu-sekutunya, Pakistan, bahkan Iran. Namun, masyarakat internasional seakan-akan menutup mata akan terjadinya konflik ini. PBB yang seharusnya merupakan “penjaga perdamaian” justru terlihat tak berdaya menangani konflik yang telah berlarut-larut ini.

Perdamaian sesungguhnya dapat dicapai apabila negara-negara bersikap berkepala dingin dengan melakukan cara diplomasi dengan melakukan perundingan secara damai. Taliban sebenarnya selalu bersedia untuk melakukan perundingan, akan tetapi tidak ditanggapi secara serius oleh negara-negara Barat. Negara-negara Barat selalu melakukan tindakan keras ofensif dengan menggempur basis-basis Taliban tanpa rasa ampun melalui kekuatan militer.

Selain itu pula PBB dan OKI yang merupakan wakil dari masyarakat internasional diharapkan lebih meningkatkan perannya dengan melakukan pendekatan-pendekatan dengan pihak-pihak yang berkonflik. PBB dan OKI merupakan mediator potensial dalam mewujudkan perdamaian di kawasan Asia Tengah dan sekitarnaya. PBB seharusnya mampu menggantikan pasukan AS-NATO dengan mengirim pasukan peace keeping mission ke Afghanistan maupun perbatasan Pakistan, selanjutnya dengan OKI sebagai mediator konflik dengan menyelenggarakan berbagai bentuk perundingan dan melakukan pendekatan kepada pihak-pihak yang berkonflik, dengan begitu nantinya dengan berbagai tahap perundingan nantinya akan tercapai suatu kesepakatan bersama yang tertuang dalam suatu perjanjian internasional dan ditaati maupun dihormati oleh pihak-pihak yang berkonflik.

Prinsip transparansi antar negara-negara baik yang terlibat konflik maupun negara yang satu regional merupakan hal terpenting dalam terselenggaranya komunikasi politik antar negara. Sehingga nantinya pula tidak terjadi rasa saling mencurigai sehingga jangan sampai menyebabkan perundingan berhenti di tengah jalan, dan semakin mengendurkan harapan menuju perdamaian. Disamping itu prinsip transparasi ada juga prinsip equality yang menempatkan hak suara yang sama dalam meja perundingan sehingga antara pihak-pihak yang bertikai tidak ada suatu intervensi apapun dalam keputusan yang dihasilkan nanti.

Untuk itulah solusi konflik Taliban ini sesungguhnya dapat diselesaikan dengan baik tanpa ada pertumpahan darah, jalan politik merupakan satu-satunya jalan keluar yang dapat ditempuh masyarakat internasional dalam menciptakan perdamaian dunia. Adakalanya kita tidak melihat suatu persoalan dalam satu sisi saja namun sesungguhnya masih banyak sisi-sisi lain yang perlu kita perhatikan sehingga tidak terjadi sesuatu hal justru menghancurkan kita sendiri. Barat selama ini terlalu terburu-buru dalam menindak setiap persoalan mengenai Islam. Barat selalu melakukan intervensi-intervensi dalam setiap keputusan yang dihasilkan dari perundingan-perundingan yang berhubungan dengan masalah Islam. Sekarang ini mata tertuju kepada Pakistan yang saat ini tengah melakukan upaya-upaya dalam menyelesaikan konflik dengan Taliban. Namun, usaha diplomasi Pakistan ditanggapi negatif dunia Barat, bahkan dunia Barat telah bersiap mengambil alih kendali Pakistan untuk menghancurkan Taliban. Jadi memang sulit memprediksikan konflik ini ke depan karena Barat masih tetap berkepala batu dengan menggunakan cara militer menghadapi Taliban. Dunia Islam pun juga hanya bisa melihat pertumpahan darah pada saudara-saudaranya, tanpa melakukan perbuatan yang nyata dan intensif dalam menyelesaikan masalah konflik yang berkepanjangan ini. Untuk itulah bersama-sama marilah masyarakat internasional kita selesaikan setiap konflik internasional dengan berkepala dingin sehingga pastinya hasilnya akan baik. Sehingga tercapailah nantinya perdamaian dunia ini tanpa ada pertumpahan darah yang terjadi.

.